12
Jan
09

demonstrasi bukan jihad

Seiring dengan semakin maraknya gencaran senjata yg memburu warga kaum muslimin Palestina, berbagai ormas di berbagai negara pun ikut menyuarakan penolakan dan pemberontakan mereka terhadap aksi tentara setan zeonis dan salibis di Palestine. Termasuk di dalamnya Indonesia yg merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sehingga banyak di lihat aksi para pembela muslim Palestine yang direalisasikan melalui berbagai aksi penolakan, seperti demontrasi, sehingga tidak bisa dibedakan lagi mana aksi kampanye pemilu dan mana aksi pembelaan kaum muslimin Palestine karna semuanya dilakukan dengan cara yg sama, yaitu demonstrasi.

Memang tidak salah lagi bahwa demo-demo itu ialah dimaksudkan sebagai tindak solidaritas kaum muslimin Indonesia terhadap pembantaian massal muslim di Palestine. Namun terkadang aksi solidaritas ini tidak sesuai dengan apa yg mereka suarakan, artinya ada ketidaksesuaian antara niatan baik dengan tuntunan syariat yang ada. Sedangkan dalam aksi demonstrasi itu disuarakan,”jihad..!!jihad…!!” tanpa memahami apa sebenarnya yg dimaksudkan dengan jihad itu sendiri. Jadilah yg berteriak-berteriak itu setelah ia pulang dari aksi demo kembali lagi dengan aktivitasnya di rumah dan lupa dengan penderitaan kaum muslimin di Palestine karna mereka menganggap bahwa aksi demo yg baru saja mereka lakukan itu adalah jihad. Kenapa demikian? karna sekali lagi itulah arti jihad yg mereka sanjung yang notabene akan memeberikan sumbangsih keringanan penderiataan kaum muslimin Palestine. Bagaimana bisa teriakan jihad yg hanya sebatas di ujung lidah dapat meringankan penderiaan kaum muslimin Palestine? Itulah realita, kita terlalu banyak berbicara tapi sedikit bertindak, sedangkan pembicaraan itu belum tentu memberikan hasil apa-apa.

Allah berfirman dalam QS. As-Shaff ayat 11 yang artinya : 

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.  

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan jenis perjuangan orang beriman yang dikatakan sebagai jihad, yaitu Allah memerintahkan untuk berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kita. Dalam alQur’an tidak dijumpai perintah Allah yang memberikan pilihan jihad ialah dengan cara demonstrasi atau aksi turun ke jalan-jalan dan menutup sebagaian bahkan hampir seluruh bagian jalan yg seharusnya dilalui oleh kendaraan bermotor. Cukup jelas perbedaan jenis jihad antara yang Allah sampaikan dalam firman-Nya dengan realita perlakuan kaum muslimin Indonesia. Allah adalah Dzat yang Maha Bijaksana, maka cara Allah dalam memberikan kewajiban jihad kepada para hamba-Nya juga sangat realistis. Kenapa kita harus turun ke jalan dan meneriakkan jihad, sedangkan jihad yg Allah maksudkan adalah dengan jiwa dan harta kita? Maka ini lah arti dari realisis yg dimaksudkan, yaitu jika memungkinkan kita untuk jihad ke Palestine dengan jiwa kita, maka itulah jihad yg Allah maksudkan. Jika tidak demikian, maka ada pilihan kedua yaitu jihad dengan harta. Jihad dengan harta, yaitu dengan menyumbangkan harta kita untuk membantu keluarga para kaum muslimin Palestine yg ditinggal mati oleh sanak saudaranya. Disinilah yg menjadi peranan sedekah yg sudah sangat dipahami oleh kaum muslimin, hanya saja dalam kasus ini kemana harta kita disedekahkan itulah yg menjadikannya bernilai jihad ataukah sedekah biasa.

Adapun kebiasaan yg sudah menjadi populer orang di dunia salah satu di negara Indonesia (demo) ini tidak lain hanya meniru pemberontak Islam pertama kali pada masa pemerintahan Ustman bin Affan rodiyallahu ‘anhu pada masa lalu. Pada masa pemerintahan Ustman rodiyallahu ‘anhu terjadi suatu masa dimana masyarakat mulai heterogen, banyak mualaf dan orang awam yg tidak mendalami keimanannya, sehingga mereka enggan untuk menuntut ilmu. Maka mulailah orang-orang Yahudi mengambil kesempatan ini sebagai salah satu titik untuk melemahkan kaum muslimin. Muncullah orang yg bernama Abdullah bin Saba’ yg dijuluki Ibnu Sauda, yaitu orang Yahudi yang berpenampilan sebagai muslim. Dialah orang pertama kali memberontak kepada pemerintahan yg dipimpin oleh kaum muslimin. Dia mengompori kaum muslimin pada masa Ustman rodiyallahu ‘anhu itu untuk memberontak kepada Ustman dengan alasan bahwa Ustman tidaklah berhak atas kepemimpinan pada masa itu karna Ustman bukanlah wali Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Dia meyakini bahwa yg berhak menjadi pemimpin pada masa itu ialah Ali rodiyallahu ‘anhu karna Abdullah bin Saba’ ini menganggap bahwa Ali lah yg menjadi wali Nabi. Dia mengungkpakan kalimat sesat yg berbunyi, “Muhammad adalah penutup para Nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali”. Inilah kalimat sihir yg dipromosikan oleh pemberontak Islam pertama Abdullah bin Saba’ kepada kaum muslimin pada masa pemerintahan Ustman rodiyallahu ‘anhu. Kemudian jadilah Abdullah bin Saba’ ini yg mempelopori demonstrasi untuk menolak kepemimpinan Ustman, sehingga akhirnya Ustman meninggal dunia karena ulah pemberontakan tersebut. 

Tidak lain lagi sejarah pemberontakan itu adalah yg diwariskan oleh para demonstran, termasuk di Indonesia ini. Dalihnya bisa saja ingin menasehati/mengoreksi/menolak berbagai kebijakan pemerintah, namun yg terjadi adalah tidak lebih dari mencela pemerintah. Sedangkan dalam Islam tidak boleh mencela pemimpin/pemerintah sedzolim apapun pemimpin itu. Selama pemimpin itu masih mendirikan sholat dan tidak terlihat kekufuran yg nyata yg dilakukannya, maka wajib bagi rakyat untuk beretika jika ingin menasehati pemimpin. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda

Barangsiapa yang hendak menasehati pemerintah dengan suatu perkara, maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima, maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasehat kepadanya. Dosa bagi dia (pemimpin-red) dan pahala baginya (orang yang menasehati). (HR. Imam Ahmad, Al Khaitsami, Ibnu Abi Ashim, Abu Nu’aim).

Hadits di atas adalah hadits yang shohih (benar) datangnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Bertolak dari hadits yg agung ini, para ulama salaf berkata dan berbuat sesuai dengan kandungannya. Diantara mereka adalah Imam Asy-Syaukani yang berkata :

Bagi orang-orang yang ingin menasehati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah lantaran pemimpin itu telah berbuat salah, seharusnya ia tidak menempatkan kata yang jelek di depan khalayak ramai. Tetapi sebagimana dalam hadits di atas bahwa seorang tadi mengambil tangan imam (pemimpin-red) dan berbicara empat mata dengannya, kemudian menasehatinya tanpa merendahkan penguasa Allah.

Beliau juga telah menyebutkan dalam kitab As-Sair : 

Bahwasannya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kedzolimannya sampai puncak kedzoliman apapun, selama mereka menegakkan sholat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka. 

Yang dimaksud dengan mengambil tangan pemimpin dalam kalimat di atas ialah mengajaknya untuk berbicara. Selanjutnya hadits-hadits dalam hal ini mutawatir. Akan tetapi wajib atas rakyat untuk mentaati pemerintah (pemimpin-red) dalam hal-hal yg berkaitan dg taqwa kepada Allah saja dan tidak mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah. Karna sesungguhnya, laa tho’ata fi ma’shiyatillah, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah subahanahu wa Ta’ala.

Maka, apa yg dilakukan demonstran muslim selama ini sesungguhnya jauh dari apa yg dituntunkan Nabi kita. Lalu apa yg dihasilkan dari demo itu sendiri? Atau apakah ada keuntungan yg diperoleh selama ini dari sekian banyak demo yang dilakukan oleh kaum muslimin Indonesia khususnya? Tentu tidak ada. Yang ada hanyalah lalu lintas menjadi macet, kerusuhan antara aparat keamanan dengan masyarakat, korban berjatuhan karna peluru nyasar atau yg segaja ditembak aparat, seperti tragedi berdarah Trisakti. Bahkan anak-anak dan wanita pun dihimbau untuk turun ke jalan dan berpanas-panas di terik matahari. Bagaimana kalo si anak sepulangnya dari demo kemudian jatuh sakit? Kalo demikian, berarti kita sudah dzolim pada anak kita sendiri. Apakah begitu pendidikan kita untuk anak-anak kita di usianya yg masih sangat muda? Mendidik mereka dengan pendidikan antipati terhadap pemerintah, bertindak anarkis, pemberontak. Jika demikian kita mendidik anak-anak, siapakah yg akan menjadi generasi sholeh yg taat kepada Allah yang  nantinya juga dengan anak-anak itu kita berharap bisa menjadi generasi penerus bangsa, memperbaiki kekurangan-kekurangan para pemimpin kita dimasa sekarang ini.

Itulah hasil dari demo yg menjadi trend orang Indonesia yg mayoritas muslim ini. Tidakkah kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa itu?

Macetnya lalu lintas tidak lain itu merupakan tindak kedzoliman para demonstran yg mendzolimi para pengguna jalan. Mungkin di salah satu kendaraan yg terjebak macet itu ada ibu hamil yg ingin segera dilarikan ke rumah sakit karna ingin segera melahirkan, mejadi tertunda dan menambah penyiksaan si ibu hamil karna adanya para pendemo yg notabene penyuara aspirasi rakyat itu. Atau bahkan ada orang yg baru terkena musibah, entah sakit atau kecelakan yg juga ingin segera dilarikan ke rumah sakit, semuanya terhalangi dan terhambat dengan kemacetan yg disebabkan oleh adanya demonstrasi itu. Belum lagi kerusakan gedung-gedung pemerintahan, sekolah pendidikan, atau bahkan lembaga/instansi kesehatan. Lalu mana keuntungan dari demo itu, jika yg dihasilkan cuma yg begitu-begitu saja? Laa haula walaa kuwwata illaa billaah.. Itulah sebab para ulama di dunia ini mengharomkan demo.

Saudara-saudariku, marilah kita berjihad seperti apa yg telah diwajibkan Allah dan dituntunkan Nabi kita. Kaum muslimin Palestine membutuhkan lebih dari sekedar demonstrasi bertopeng jihad. Harta kita yg kita keluarkan walau hanya sedikit namun jelas tujuannya, maka itulah jihad yg sebenarnya, itulah yg dubutuhkan kaum muslimin Palaestine. Jika kita sanggup untuk berjihad dengan jiwa kita, maka mintalah pertolongan Allah agar kaum muslimin segera dimenangkan.. Allahumma irhamna wanshur muslimin wa muslimaat fi falestiin…

Wallahu a’lam bi showab.


65 Responses to “demonstrasi bukan jihad”


  1. January 12, 2009 at 5:12 am

    aq bisa nyumbang apa ya….?
    ==a

  2. January 12, 2009 at 8:50 am

    sepakat, kang fachrie……….
    saya jadi ingat pesen baginda rasul, kalau jihad yang paling besar dari pada perang badar sekalipun adalah jihad nafsu……..
    saya juga tidak setuju dengan demo seperti itu…yang terkadang ada muatan politis didalamnya….dan saya sangat setuju dengan tidak sekedar demo dijalan (yang mbawa2 anak kecil, kesian banget) mending dengan langkah nyata…….
    postingan mantab!!! salut
    *menjura*
    *beri aplaus* :mrgreen:

  3. January 12, 2009 at 9:24 am

    Allahu Akbar
    setuju banget ….

  4. January 13, 2009 at 1:45 am

    yupp, maka membantu dengan harta (donasi) sekecil apapun itu akan lebih bernilai daripada hanya meneriakkan. semoga, mereka yg berdemonstrasi utk tujuan solidaritas akan ber-action secara riil utk membantu saudaranya..
    salam kenal

  5. January 13, 2009 at 3:32 am

    *Mencoba melihat sekeliling*
    apa yang kita punya yang akan dipersembahkan untuk membantu saudara kita disana?
    apapun.. apapun..
    uang, perhiasan, baju, obat, darah?
    apapun.. apapun..

  6. January 13, 2009 at 1:58 pm

    boicot israel and america product…praying and keep donating for palestine

    Allahuakbar 3x
    al-ikhlas 3x

  7. January 13, 2009 at 2:14 pm

    panjang banget?

    paling gw cuma bisa berdoa aja… semoga bisa agak reda dikit di Gaza sana…

    kalo damai, berarti sudah pindah agama dong? iya kan??

  8. January 14, 2009 at 3:50 am

    Sahabat
    Aku salut dg cara berpikirmu
    Mungkin memang berbeda dengan yang lain
    Tapi dengan perbedaan ini toh tidak membuat kita semua berhenti bergerak

    Semangat!

  9. January 14, 2009 at 12:59 pm

    Yah….lebih baik kita lakukan sesuatu dari pada berdemo…, Apakah dengan berdemo dapat merubah keadaan di palestina menjadi lebih baik. Itu belum tentukan????

    Lebih baik kita menyebabkan kemacetan yang bermanfaat, misalnya saja kita bisa menarik dana dari pengendara roda dua atau roda empat untuk kita sumbangkan ke Palestina.

    Salam sejatera selalu wahai saudaraku, saya salut dengan jalan pemikiran anda.

  10. January 15, 2009 at 5:55 am

    setuju bro
    semoga rakyat Palestina diberi ketabahan

  11. January 15, 2009 at 11:11 am

    Setuju mas…
    Dari pada kita berdemo nggak jelas hasilnya, mendingan kita mencoba memberikan sesuatu yang bersifat nyata walau itu nilainya kecil setidaknya do’a… :)

  12. January 15, 2009 at 12:10 pm

    blue ikut mendoakan tuk palestina agar bisa melawan israelllllllll
    dukung terus para mujahid palestina
    salam hangat selalu

  13. January 15, 2009 at 2:34 pm

    Jihadku untuk palestina adalah selalu mendoakan buat sodara kita di sana tabah menghadapi ujian-Nya amin ya rabbal alamin..

    ikutan IBSN yuk.. bulan ini tutup tgl 25 jan ‘ 09 jam 23.59wib kami tunggu yah… IBSN (Berbagi Tak Pernah Rugi)

    salam kenal, ^_^

  14. January 16, 2009 at 1:22 am

    @kang abee : terimakasih ya kang, saya juga baru belajar
    @accan : ok, semagat ya can
    @si Dion : Mudah-mudahan saja demikian. Salam kenal kembali, and terimakasih sudah mampir..
    @mayapuspitasari : sip dah buat maya, keknya maya dah siap semuanya ni.. semangat ya..
    @arsikhomeini : ayo kita lawan Israel..
    @diazhandsome : berdoa juga baik kok…
    @achoey : terimakasih. Umat Islam adalah ummat yg satu. Dengan kesatuannya ummat Islam adalah ummat yg akan selalau menang. Semangat
    @mujahidahwanita : terimaksih atas masukannya, semangat, semakin banyak dana yg terkumpul, semakin banyak pula harta kita yg bernilai jihad, insya Allah
    @anom tejo : ok
    @annosmile : amiiin
    @bujang lahat : setuju..
    @bluethunderheart : semangat ya mas blue
    @Didien : amiin ya robbal ‘aalamiin. Alhamdulillah saya sudah gabung dengan IBSN..

  15. January 16, 2009 at 2:59 am

    setidaknya masih ada rasa solidaritas sesama muslim…..yang penting jangan sampai kita terpecah belas karena sesungguhnya Fitnah dunia saat ini sedang terjadi diantara kita…dimana kita bersahabat dengan musuh dan menjauhi saudara kita yang tersakiti

    insya Allah solidaritas tetap kita jaga, hanya saja salah satu bentuk dari solidaritas itu adalah amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, terimakasih commentnya :)

  16. January 16, 2009 at 4:08 am

    Emang dasarnya, org yahudi tuh licik.

    ‘Abdullah ibn Sabaa, seorang yahudi, yg berusaha merusak Islam yg dibawa Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tapi ia tak sesukses Paulus (di Kristen). Ia hanya berhasil membangun sebuah sistem kepercayaan yg di kemudian hari disebut sbg syi’ah. Jika objek Paulus adalah diri Yesus, maka ‘Abdullah ibn Sabaa menggunakan ‘Ali ibn Abi Thalib.

    Catatan kelicikan dan kekejian bangsa yahudi ini terus berlanjut hingga kini, di era sejarah modern manusia.

    terus berlanjut dan takkan pernah puas sampai diri kaum muslimin mengikuti agama mereka (Al-Baqoroh :120). Oleh karna itu kita hendaknya waspada dari tipu daya mereka…

  17. January 16, 2009 at 5:15 am

    with demonstration at least our voice can be heard by the government to do “something” helpful for saving our brothers and sisters in Palestine.Better than do nothing,,,,,,,,

    there are so many ways to help our brothers and sisters in Palestine, so we can choose the right one without make any disturbances situation which make uncomfortable to another person, ok :)

  18. January 16, 2009 at 7:29 am

    aku datang membawa tongkat, tongkat ini bukan sembarang tongkat kalau gak ngasi koment keblogmu bisa gawat

    :D

  19. 20 bluedicko
    January 16, 2009 at 11:01 am

    yup..bener mas, aku juga gak setuju dengan demo-demo gitu…!!apalagi sejauh yang kita lihat, ada pendemo-pendemo yang di tangkap, dipukuli…kalau udah gitu..siapa yang harus menyalahkan siapa…!! lagian buat apa sih demo, toh tetep tidak menghasilkan apa-apa sejauh ini…

    kalaupun ada hasilnya, tetap saja cara yg digunakan (demo) adalah kurang tepat berdasarkan tuntunan syariat..

  20. 21 bluedicko
    January 16, 2009 at 11:07 am

    oiya…ketinggalan…for Mel comment “Better than do nothing,,,,,,,,” gak mesti demo kann??banyak hal bermakna yang bisa kita buat dan bermanfaat pastinya untuk mereka..!!

  21. January 16, 2009 at 12:53 pm

    Saya setuju dengan bluedicko, mungkin partisipasi kita ada porsi dan cara masing-masing untuk mepersepsikan keadaan yang terjadi. Paling tidak kita bisa berdo’a untuk saudara-saudara kita yang ada di Palestina.

    Salam,
    OmpuNdaru

    doa kita, semoga segera diijabah oleh-Nya..

  22. January 16, 2009 at 3:25 pm

    oke deh… tadi di skolah gw ada doa bersama buat Palestina… bagus kan?

    alhamdulillah..

  23. January 16, 2009 at 5:14 pm

    Semoga cepet selesai konfliknya.

  24. January 17, 2009 at 9:11 am

    Seandainya aku mampu aku akan lakukan apapun untuk Palestina-ku…
    Hidup jihad!

    insya Allah, dengan ijin Allah

  25. January 17, 2009 at 9:51 am

    saya setuju dengan yang diatas kalau cuman demo bisa jadi ada udang dibalik rempeyek.. eh salah dibalik batu..:D
    nah kalau orang menghujat israel di blog menurut mas fahri gimana?
    aku sendiri nggak pernah, karena aku ngerasa ilmuku nggak nyampe..
    cuman kalau menghujat pemerintah sendiri wah saya hobby..

    gimana ya mas?

    menghujat seseorang atau kelompok pun ada etikanya. Jika sudah jelas keburukannya seperti Yahudi dan Nashoro yg jelas-jelas membenci Islam (Al-Baqoroh :120), maka menghujat mereka diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk disebarluaskan karna khawatir akan ada yg terkena bahayanya. Sebaliknya juga menghujat pemerintah, ummat Islam telah dituntunkan seperti yg sudah saya tuliskan dalam postingan di atas. Wallahu a’lam..

  26. January 17, 2009 at 10:01 am

    pertanyaan yg sama itu juga terlontar jika melihat demo itu. Tapi, mungkin gerakan massal itu bisa membangkitkan sebuah opini publik yang bisa mengubah keputusan penting untuk sebuah urusan yg didemo-kan… yahh mungkin begitu

    cara yg dituntunkan Nabi adalah sudah cara terbaik. Justru jika tujuannya membangkitkan opini publik seperti yg terjadi kebanyakan di Indonesia, itu lebih mengarah pada memancing amarah public. Padahal jika dilakukan dengan ahsan, mengajak pemerintah bermusyawarah, insya Allah dengan ijin Allah aspirasi rakyat bisa mempengaruhi keputusan pemerintah yg dianggap mungkin tidak relevan dengan keinginan rakyat, wallahu a’lam..

  27. January 17, 2009 at 9:58 pm

    hanya ingin sedikit kritik mengenai bagian abdullah bin saba… dan hubungannya dengan usman dan ali… kayaknya sumbernya gak bisa dipertanggung jawabkan deh…. :)

    kang ichanx kalo sering ikut kajian Islam, kang ichanx mungkin bisa pinjam kitab milik ustadznya yg berjudul “Tarikh Ar-Rasul juz 4 hal. 340 karangan At-Thabary melalui Mawaqif. Disana ada informasi yang menjelaskan tentang pembangkangan Abdullah bin Saba terhadap Sahabat Ustman bin Affan dan pembelaannya terhadap Ali bin Abi Tholib, berikut kata-kata beliau yg menjadi penyebar fitnah di kalangan kaum muslimin pada pada masa itu. Sedangkan mengenai model pembangkangan yang dilakukan Abdullah bin Saba’ ini merupakan cara amar ma’ruf nahi munkar yg salah dapat dilihat di kitab “Tahqiq Mawaqif Ash- Shabati fil Fitnati min Riwayat Al-Imam At-Thabari wal Muhadditsin juz 2 hal. 342″. Kitab-kitab atau buku yg saya sebutkan itu merupakan karangan para ulama Alhul Hadits yang paham tentang kedudukan hadits Nabi, sehingga mereka bisa menilai manakah berita yang benar datangnya dari Nabi atau sebaliknya. Sehingga, kebenaran dari riwayat mengenai Abdullah bin Saba’ itu dapat dipercaya. Semoga saya terhindar dari perkataan dusta… wallahu a’lam.. (terimakasih atas masukannya mas ichanx… :) )

  28. 29 qurratulaini
    January 17, 2009 at 11:06 pm

    alhmdulilLah… corak berfikir yang begini seharusnya dicontohi, tidak terlalu keras dan tidak juga terlalu lemah, masih meniti pada syariat. di negara sy sendiri udah mula keliatan fenomena demonstrasi, hatta kita udah diberi jalan oleh Islam cara terbaik (seperti yang tercatat dalam tulisan akhi fachri). Allah menilai pada usaha, bukan hasil.

  29. 30 freztstep
    January 18, 2009 at 3:14 am

    demo?? bknkah dengan demo membuat masyarakat jadi pnasaran, trus liat deh berita, nah ntar kan jadi sadar dan tersentuh untuk memberikan donasi ato yang laen.hmmm… ndak tau juga… sukses selalu !!!!

  30. January 18, 2009 at 4:40 am

    hmm… mungkin bisa dicoba mencari riwayat dari sudut pandang lain, misalnya dari kubu syiah, atau minimal dari kelompok suni yang non salafiah/wahabiah. hehe. gak ada salahnya kan untuk sedikit open-minded? :)

    secara singkat, al-tabari dkk mengangkat cerita tentang abdullah bin saba dalam bukunya hanya dari satu sumber, yaitu buku al-Futuh al-kabir wa al-riddah (kalo gak salah) karangan Sayf ibn Umar. Itu satu-satunya sumber pustaka yang diangkat oleh al-tabari, ibn asakir, al-dhahabi, dll. tidak ada satupun riwayat tentang abdullah bin saba sebelumnya, selain riwayat yang diceritakan oleh sayf ibn umar. sangat banyak orang yang meragukan kebenaran cerita abdullah bin saba ini, mengingat nasab periwayatnya yang tidak jelas. jangan-jangan dia hanya tokoh fiktif yang diciptakan penguasa pada masa itu (melalui tulisan sayf ibn umar), untuk kepentingan politik versus syiah.

    kalo dibahas disini, mungkin bisa berbelit-belit dan bikin saya terkesan membela syiah. hehe. kebeneran lagi “semangat baca-baca” agama2an gara2 israel nih. :)

  31. January 18, 2009 at 9:49 am

    save palestine !
    aduh benci banget gw sama israel.gatau diri banget !
    ckckck

  32. January 18, 2009 at 12:17 pm

    mungkin sampean benar.. soal kita nggak boleh menghujat pimpinan yang mendirikan sholat, saya juga sudah membacanya kemaren di artikel mas fahri di atas, cuman saya kok berfikir begini “Ashollatu Tanha Anil Faqsa’i wa munkar” sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.. menurut saya itu Rumus Allah seperi 1+1 pasti 2, tidak 3 tidak 4, soo kalau orang masih berbuat keji dan munkar berarti dia sebenarnya nggak sholat, hanya gerakan dan ucapannya saja yang seperti orang sholat… jadi ya pantas di hujat.. itu menurut pikiran saya yang bodoh ini lho mas.. ma’af

  33. January 19, 2009 at 3:41 am

    Setidaknya kita memberikan sesuatu untuk perjuangan rakyat Palestine

    BerGeRak…
    Maju…!!

  34. 35 hellgalicious
    January 19, 2009 at 4:23 am

    weitsss….
    panjang banged postingannya?
    palestina emang disuruh bersabar ama Allah…

    gw cuman bisa ngedoain ajje de,

  35. January 19, 2009 at 4:54 am

    antara pro-kontra demo.. betul banget memang better than do nothing,
    tapi lebih better lagi demo-nya sesuai aturan dan tidak merugikan masyarakat lain..
    tapi lebih better better lagi ngikutin syariat agama yang kang fachri sebutin di atas (dibicarakan empat mata apalagi dengan suasana hikmat, mungkin nasehat kita lebih menyerap tuh ke si pemimpin x ya, hoho)..

    dimule dari yang aksi yang besar namun manfaatnya yang kecil.. atau aksi yang kecil namun manfaatnya yang besar?? silahkan dipilih deh :D terserah yang bertindak he he he

    (saya baru denger hadits nya lho, thanks FYI kang Fachri :mrgreen: )

    btw, dah banyak kan yang daftar siap diberangkatkan mau jihad ke Palestine?? apa kabar ya itu?? maaf saya lagi miskin asupan berita terkini nih ..

  36. January 20, 2009 at 2:18 am

    bener, mas fachri. para demonstran jangan lah mengganggu kepentingan umum….

  37. January 20, 2009 at 7:48 am

    tiap orang punya cara masing2 utk menunjukkan kepeduliannya terhadap apa yang terjadi pada muslim palestine…
    yah.. semoga bukan hanya “selemah-lemah nya iman” yang dilakukan oleh kita semua…

  38. January 22, 2009 at 1:00 am

    assalamualaikum…

    wah aku setuju dengan pemikiran kamu…

  39. 41 meylya
    January 22, 2009 at 5:48 am

    memang para demonstran itu sering mengganggu kepentingan umum

  40. January 24, 2009 at 8:17 am

    weqss… belum update?

  41. January 25, 2009 at 6:27 am

    Yang penting tetap dalam jalur damai……….

  42. January 25, 2009 at 1:14 pm

    Apalah artinya demokrasi di negara ini… (walah?!)
    Salam silaturahim… ;)

  43. January 26, 2009 at 9:17 am

    Demonstrasi sebagai wujud solidaritas untuk palestina, saya kira masih hal yang wajar.
    tetapi jika demonstrasi telah ditunggangi untuk kepentingan kelompok tertentu, saya kira sama biadabnya dengan tindakan israel,karena mengatas namakan kemanusiaan untuk mencari kekuasaan.

    jika memang ingin membantu palestina, sebaiknya lakukanlah dengan tindakan bukan teriakan…

  44. 47 agunk agriza
    January 29, 2009 at 2:57 pm

    demo terkesan sombong .
    padahal ga bermanfaat apa2 buat org di palstina .

    setuju aja deh ;)

  45. 48 hellgalicious
    January 30, 2009 at 2:40 am

    woii apdet woii

  46. 49 Alexhappy
    January 30, 2009 at 3:51 am

    demontrasi itu jg sebagian kecil dari jihad kita, nulis di blog dan komentar jg bagian kecil dari jihad kita, diplomasi utk perdamaian jg bagian kecil jihad jg, buat opini positif di media massa jg bagian kecil dari jihad…..Segala sesuatu tergantung niatnya…….Jihad yang utama adalah PERANG DI MEDAN PERTEMPURAN……

  47. 50 Alexhappy
    January 30, 2009 at 3:53 am

    jihad artinya dlm dlm universal adalah bersungguh2 berjuang dalam menegakkan dan membela Agama Allah

  48. 51 Alexhappy
    January 30, 2009 at 3:56 am

    “Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan jenis perjuangan orang beriman yang dikatakan sebagai jihad, yaitu Allah memerintahkan untuk berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kita. Dalam alQur’an tidak dijumpai perintah Allah yang memberikan pilihan jihad ialah dengan cara demonstrasi atau aksi turun ke jalan-jalan dan menutup sebagaian bahkan hampir seluruh bagian jalan yg seharusnya dilalui oleh kendaraan bermotor.”

    Ya dalam demo itu mereka kan mengumpulkan uang dan harta mereka utk di sumbangkan ke Palestina……berarti berjihad kan?
    dan info yg sy terima demo kaum muslimin keramen di jkt mengumpulkan uang (harta) sampai 22 milyar yg sudah di berikan lansung ke palestina via HAMAS

  49. 52 Alexhappy
    January 30, 2009 at 4:05 am

    bukankah itu bukan jihad namanya kawan???
    tapi itu terserah kita menilainya, kita punya pendapat berbeda2 dan pemahaman yg berbeda2, karena mereka sudah berbuat, mereka sudah bekerja sampai detik ini dan amal kita buat kita masing2…..

    Tapi saran sy mungkin begini aja, ngga usah deh mempermasalahkan orang yang mendukung dan bersimpati kepada saudara Islam kita disana lagi. mau demo kek, mau nyumbang kek, mau boikot produk yahudi kek, mau jadi relawaan medis kek, ato sekalian pergi kesana perang lawan yahudi……no problem.

    Yang penting adalaah kita HARUS LAWAN YAHUDI, terserah bentuknya apa.

    salam cinta mas fahri :)

  50. 53 Alexhappy
    January 30, 2009 at 4:08 am

    Ismail Haniya berpesan, BANTUAN MATERI, OPINI dan DUKUNGAN DUNIA INTERNASIONAL seperti demo, opini di media massa. dan bahkan Ismail Haniya minta demo kalo bisa setiap hari guna membuat opini dan dukungan kepada mereka.

  51. 54 Alexhappy
    January 30, 2009 at 4:17 am

    semua upaya kita coba kawan,

    1. Nyumbang dgn harta ketika demo juga. kirim rekening juga iya.
    2. Demo bentuk opini publik
    3. Relawn medis udah masuk Gaza
    4. Relawan perang banyak yg daftar tapi terkendala masuk di perbatasan mesir-palestina.
    5. Diplomasi atau musyawarah ama pemerintah SBY udah sampai ke PBB gagal total
    6. Resolusi ke DK PBB mentah di veto AS
    7. Lobi dan musyawarah ke TIMTENG para pemimpin Arab agar mendukung palestina, udah oke. semua pemimpin arab mau, kecuali Husni mubarak presiden mesir.
    8. Opini di media massa (koran,TV,majalah,situs,web,blog)
    9. doa (ini selemah2 iman)

    • 55 Iwandulah
      June 25, 2013 at 7:47 am

      Kalau kita sudah mengikuti sunnah yg menjadi tugas pokok Rasulullah “an aqimuddin wala tatafaroquu fieh” (QS.42:13), pasti tdk hanya demo2 dan sumbangan2 utk Palestina, tp langsung akan mengirimkan pasukan pembebas Palestina. Kita ini sangat prihatin krn tdk punya ulil amri yg mengikuti sunnah Rasul, malah Islam pecah belah jd partai2/firqoh2 (kullu hizbin bima ladaihim farihuun). Jadi berusalah dulu kita bersatu sampai “aqimuddin” (tegaknya negara Madinah), baru kita sapu org2 kapir itu.

  52. 56 Alexhappy
    January 30, 2009 at 4:18 am

    Jadi saran sy mungkin begini aja, ngga usah deh mempermasalahkan orang yang mendukung dan bersimpati kepada saudara Islam kita disana lagi. mau demo kek, mau nyumbang kek, mau boikot produk yahudi kek, mau jadi relawaan medis kek, ato sekalian pergi kesana perang lawan yahudi……no problem.

    Yang penting adalaah kita HARUS LAWAN YAHUDI, terserah bentuknya apa.

    salam cinta mas fahri :)

  53. January 30, 2009 at 1:03 pm

    kalo menurut saya sih…

    tergantung sama sudut pandang kita juga(sama kayak komennyaalexhappy)
    kan ada kalo gak salah…
    lawan dengan melakukan, jika tidak bisa
    lawan dengan kata2, jika ini tak bisa juga
    maka lakukan dengan doa

    kalo gak salah ada deh di alqur’an ato kata nabi…

  54. January 31, 2009 at 2:54 am

    Ibarat menyaksikan saudara kita babak-belur dipukuli penjahat, kita lantas berdiam diri dan malah berusaha mencegah saudara kita yang lain untuk menolongnya. Lebih dari itu, kita malah menyalahkan saudara kita yang akan menolong itu dan menilainya sebagai kekanak-kanakan, emosional, dan ‘tidak pakai otak’; sembari membiarkan saudara kita yang babak belur itu tetap dipukuli. Tidak cukup dengan itu, kita kemudian berusaha menafsirkan kata ‘menolong’ sebagai tidak harus dengan melawan penjahat tersebut, tetapi cukup dengan memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan dll. kepada saudara kita yang menjadi korban itu. Lebih dari itu, kita malah menangkapi sekaligus memukuli saudara-saudara kita yang lain, meskipun mereka hanya sekadar menuntut dilakukannya upaya menolong saudara kita yang babak-belur itu.
    Naif! Akan tetapi, kira-kira seperti itulah sikap yang ditunjukkan oleh sebagian umat Islam saat ini—terutama penguasa dan para ‘cendekiawan’—dalam mencegah umat Islam lain yang menuntut dilakukannya jihad terhadap AS dan sekutu-sekutunya yang sudah lebih dari dua pekan ini membantai umat Islam di Afghanistan. Dalam hal ini, Allah Swt. berfirman:
    Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS al-Baqarah [2]: 217).
    Allah swt. mengajarkan bahwa sikap dalam merespon kenyataan ini adalah jihad fi sabilillah. Allah Dzat Maha Perkasa berfirman:
    Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (QS al-Baqarah: 190).
    Meluruskan Makna Jihad
    Meskipun telah demikian jelas sikap permusuhan orang-orang kafir— terutama yang direpresentasikan oleh AS dan sekutu-sekutunya—terhadap Islam dan umatnya, sikap sebagian umat Islam malah tampak lemah dan pengecut. Setelah umat Islam dihina dengan cap teroris dan sekaligus diperangi oleh orang-orang kafir, mereka bukannya membela diri serta mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka. Sebaliknya, mereka—baik yang bersembunyi di balik baju-baju ormas Islam ataupun mengatasnamakan dirinya sebagai cendekiawan/ulama—sengaja atau tidak, telah tergelincir dalam aksi ikut-ikutan memanipulasi makna jihad. Padahal, justru dengan jihadlah harga diri dan kehormatan Islam dan kaum Muslim dapat terpelihara.
    Dalam hal ini, mereka tampak sangat tekstualistik-literalistik, yakni memaknai kata jihad sekadar dari perspektif bahasa semata, tidak dari perspektif yang lebih luas, yakni syariat. Dengan itu, seolah-olah mereka berkata benar. Padahal, mereka berkata tanpa satu dalil pun; tidak juga dengan merujukkannya pada pendapat para fuqaha atau ulama mujtahid yang kredibel.
    Mereka mengatakan bahwa jihad itu maknanya luas. Esensinya adalah sungguh-sungguh. Di masa ekonomi sulit seperti sekarang, jihad yang paling pas adalah jihad melawan kemiskinan. Jihadlah dengan kemampuan masing-masing. Jangan mati konyol. Dengan sadis, mereka bahkan mengatakan bahwa orang yang memaknai jihad sebagai perang adalah picik! Subhânallâh!
    Dengan menyatakan begitu, tanpa sadar orang seperti itu telah mencap Rasulullah saw. dan para sahabatnya—yang sebagian besar hidupnya setelah menerima risalah Islam bersungguh-sungguh dalam perjuangan dakwah dan jihad fi sabilillah—sebagai orang-orang yang picik. Na’ûdzu billâhi min dzâlik!.
    Bahkan, untuk mengecilkan makna jihad dalam perspektif syariat, yakni perang untuk menegakkan kalimat Allah, mereka mempertanyakan, “Mengapa jihad melawan orang-orang kafir yang merupakan “jihad kecil” (jihâd ashghar) dibesar-besarkan, sementara jihad melawan hawa nafsu yang merupakan “jihad besar” (jihâd akbar) tidak diperhatikan?”
    Dalam hal ini, mereka menggunakan dalil berupa Hadis Nabi berikut:
    “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat bertanya, “Apa jihad besar itu? Rasul menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.”
    Muhammad as-Syuwaiki dalam buku Al-Khalâs wa ikhtilâf an-Nâs. hlm. 185, menjelaskan bahwa memang ada yang disebut dengan jihad memerangi hawa nafsu, termasuk jihad memerangi setan dan orang-orang fasik. Akan tetapi, jihad semacam ini tidak lebih utama dibandingkan dengan jihad memerangi orang-orang kafir. Tidak juga lebih besar—di sisi Allah swt.—ketimbang jihad memerangi orang-orang kafir. Apalagi jika sampai menafikan dan menghapuskan jihad memerangi orang-orang kafir. Bahkan, sebaliknya, jihad memerangi orang-orang kafir tetap wajib sampai Hari Kiamat, sebagaimana jihad melawan hawa nafsu.
    Atas dasar ini, pendapat yang menyatakan bahwa jihad memerangi hawa nafsu di sisi Allah swt. lebih utama dan lebih besar dibandingkan dengan jihad memerangi orang-orang kafir adalah sangat keliru. Pendapat semacam ini absurd dan berbahaya karena bertentangan dengan—sekaligus mematikan—pemahaman mengenai jihad (perang) di jalan Allah. Oleh karena itu, pendapat semacam ini harus ditolak karena dua alasan berikut:
    Pertama, jihad mengandung dua muatan makna: makna bahasa dan makna syariat.
    Memerangi hawa nafsu termasuk kedalam pengertian jihad secara bahasa. Secara bahasa, di dalam Kamus al-Muhîth, jihad bermakna kesungguhan (juhd), kemampuan menanggung beban (thâqah), dan kesulitan (masyaqah). Ar-Razi mengatakan, “Mujâhadah asal katanya adalah juhd (kerja keras) yang bermakna masyaqah (kesulitan).”
    Di dalam al-Majmû’ juga disebutkan, “Jihad diambil dari kata juhd (kerja keras) yang bermakna masyaqah (kesulitan).”
    Di dalam syarah Shahîh al-Bukhârî dijelaskan bahwa jihad secara bahasa bermakna masyaqah (kesulitan). Di dalam Kitab Nayl al-Awthâr disebutkan juga bahwa jihad bermakna masyaqah (kesulitan).
    Sementara itu, secara syar’î, dalam hasyiyah Kitab Radd al-Mukhtâr disebutkan bahwa jihad adalah mengerahkan segenap potensi untuk berperang di jalan Allah; baik secara langsung ataupun secara tidak langsung—seperti melalui bantuan materi dan sumbangsih pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain. (Lihat: Ibn Abidin, al- Hasyiyah Radd al-Mukhtâr).
    Di dalam syarah Shahîh al-Bukhârî (Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani), disebutkan bahwa secara syar’î jihad bermakna mengerahkan segenap kesungguhan di dalam memerangi orang-orang kafir. Di dalam Nayl al-Awthâr karya Imam asy-Syaukani dan syarah az-Zarqani juga disebutkan hal yang sama.
    Walhasil, secara bahasa, jihad mencakup segala makna yang dikandungnya selain perang. Sebaliknya, secara syar’î, jihad tidak mengandung makna apa pun selain perang. Adanya perbedaan makna jihad ini mengharuskan tidak adanya penyesuaian setiap nash yang memuat lafal jihâd atau mujâhadah dengan muatan makna tertentu—di antara kedua makna ini—kecuali adanya indikator (qarînah) yang menunjukkannya.
    Namun demikian, dalam konteks jihad dalam pengertian syar’î, kita akan menemukan dua jenis penjelasan: yang eksplisit (gamblang) dan yang implisit (tersirat). Yang eksplisit antara lain adalah firman Allah berikut:
    Perangilah oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah (kekafiran) sehingga agama ini hanya milik Allah semata. (QS al-Anfal [8]: 39).
    Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa-jiwa mereka dan harta-harta mereka dengan imbalan surga bagi mereka; mereka berperang di jalan Allah kemudian membunuh atau terbunuh. (QS at-Taubah [9]: 111).
    Rasulullah saw. juga pernah bersabda:
    Siapa saja yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah—sebagai kalimat yang tinggi—berarti dia telah berjihad di jalan Allah.
    Masih banyak sejumlah nash lain yang mengandung pengertian secara jelas tentang upaya memerangi orang-orang kafir, yakni sebagai jihad dalam pengertian syariat.
    Sementara itu, yang implisit, tetapi berbagai indikatornya tetap menunjukkan pada makna perang, contohnya adalah beberapa ayat berikut:
    Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. (QS at-Taubah [9]: 73).
    Akan tetapi, Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berjihad dengan harta dan diri mereka. (QS at-Taubah [9]: 88).
    Frasa waghluzh ‘alaiyim dan bi amwâlihim wa anfusihim merupakan indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa jihad yang dimaksud dalam ayat itu adalah jihad syar’i, yakni memerangi orang-orang kafir.
    Rasulullah saw. juga bersabda:
    Jihad itu terus berlangsung sejak aku diutus oleh Allah Swt. hingga orang terakhir di antara umatku yang berperang melawan Dajjal.
    Lafal an yuqâtila merupakan indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa jihad dalam hadits itu maknanya syar’i, yakni memerang orang kafir.
    Sementara itu, ada nash-nash jihad yang memang tidak mengandung indikasi ke arah peperangan, antara lain:
    Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (QS al-Ankabut [29]: 69).
    Siapa saja yang berjihad, sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. (QS al-Ankabut [29]: 6).
    Rasulullah saw. juga bersabda:
    Jihad yang paling agung adalah kata-kata yang benar yang disampaikan kepada penguasa yang jahat.
    Nash-nash terakhir ini menunjukkan jihad dalam arti bahasa.
    Dibedakannya jihad menjadi dua antara lain didasarkan pada salah satu riwayat di atas, yakni ketika Aisyah bertanya tentang kewajiban jihad kaum wanita. Rasul kemudian menjawab (yang artinya), “Ada, tetapi jihad tanpa peperangan, yaitu haji dan umrah.”
    Ucapan Rasulullah saw. ini menunjukkan bahwa jihad bisa bermakna peperangan dan bisa juga tanpa peperangan. Jihad tanpa perang termasuk ke dalam pengetian bahasa, sementara jihad dengan perang termasuk ke dalam pengertian syariat. Jihad tanpa peperangan misalnya memerangi hawa nafsu, berbuat baik kepada dua orang tua, mengoreksi penguasa, mendebat orang-orang kafir dengan hujjah, amar makruf nahi mungkar, ibadah haji, dll. Sebaliknya, jihad dalam pengertian perang bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam perang secara langsung, memberikan bantuan baik berupa materi ataupun sekadar pendapat mengenai strategi, menyampaikan pidato untuk membakar semangat tentara, dan hal-hal lain yang terkait dengan perang.
    Kedua, lemahnya kedudukan hadis mengenai “jihad kecil” dan “jihad besar” dari segi riwâyah maupun dirâyah-nya.
    Hadis ini, secara faktual, tidak layak dipandang sebagai dalil. Hal ini setidaknya didasarkan pada alasan bahwa bahwa hadis tersebut mardûd (tertolak), baik dari segi substansi (dirâyah) maupun periwayatannya (riwâyah). Dari segi periwayatan, hadis ini statusnya dha’îf/lemah (Lihat: As-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shaghîr). Sementara itu, dari segi substansi, pengertian hadis tersebut berseberangan dengan sejumlah nash yang mewajibkan jihad fi sabilillah dalam memerangi orang-orang kafir, yang justru dipandang sebagai amalan yang sangat agung. Allah, misalnya, berfirman tentang keutamaan jihad:
    Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS an-Nisa’ [4]: 95).
    Allah juga memuji aktivitas jihad memerangi orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:
    Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (QS at-Taubah [9]: 111).
    Sebaliknya, Allah mencela dan mengancam orang-orang yang tidak berangkat jihad memerang orang-orang kafir, misalnya:
    Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan digantinya lian dengan kaum yang lain. (QS at-Taubah [9] : 38-39).
    Banyak juga nash hadis yang menyebut keutamaan jihad dalam arti berperang melawan orang-orang kafir, misalnya:
    “Berdirinya salah seorang di antara kalian dalam jihad fi sabilillah adalah lebih utama daripada shalatnya di rumahnya selama 70 tahun&ldots;.
    Berjaga-jaga di perbatasan dengan negeri kufur dalam jihad fi sabilillah lebih baik daripada dunia dan segala yang ada di atasnya.
    Dengan demikian, jika ada orang yang terus memanipulasi makna jihad sekaligus mempropagandakan bahwa jihad melawan hawa nafsu adalah lebih urgen daripada jihad memerangi orang-orang kafir, ia berarti telah terjebak pada kungkungan hawa nafsunya sendiri yang enggan berperang melawan orang-orang kafir. Padahal, bukankah Allah Swt. telah berfirman:
    Diwajibkan atas kalian berperang, sementara berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216).
    Wallâhu a’lam bish-shawâb.

  55. March 4, 2009 at 3:17 am

    kalo menurut saya ci tergantung dari pada niat,
    toh kalau niat demo untuk mengingatkan para penguasa yang dzalim ,
    moga itu bisa dikatakan jihad,,
    tapi itu menurut saya lo… kalau toh beda yo wess,,,

    • October 21, 2010 at 3:26 pm

      kalo manusia itu diperintah untuk berpikir menurut pemikirannya masing-masing, maka tidak perlu adanya tuntunan (agama)di dunia ini.. semua manusia bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginan dan pikirannya masing-masing..

  56. March 17, 2009 at 1:24 pm

    semoga semua yang terbaik untuk rakyat serta bangsa ini lah. terutama anak anak sebagai calon penerus bangsa.

  57. August 20, 2010 at 9:18 am

    MASYYA ALLAH SUNGUH HEBAT DUNIA INI AKU KAGUM DENGAN DUNIA INI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

Menulis Untuk Perkongsian Bijak

Rumah Rifa'i

Blognya Pustakawan Preman

Embun Pagi Bee

Menanti embun disenja hari

danikurniawan

story of my recent life

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: