18
Sep
08

[pakaian wanita = bungkus lontong]

Ga tau juga kenapa judul PKM ku diganti-ganti. Katanya sih karna jenis katalis yang ini rada rewel. Ya sudahlah. AKhirnyaq aq harus kembali menyusun metode penelitian yang baru dan langsung mengerjakan bahan yang dibutuhkan, terburu-buru dikejar waktu, soalnya besok jum’at harus sudah dikumpul. Rasanya lelah sekali, tapi aq yakin ni insya Allah akan ada manfaatnya. Walaupun terburu-terburu karna masih harus menghadiri pertemuan perdana kursus bhs. Inggris SRC yang dimulai jam 5 sore, tapi semuanya alhamdulillah terlaksana dengan baik, trmasuk juga aq yg harus segera balik ke kos karna ada jadwal ngisi ceramah taraweh di masjid dekat kos.

Setelah sampai di depan masjid, ternyata jamaah belum mulai sholat isya, padahal di masjid lain sudah ada yang selesai. Ternyata takmir masjidnya masih menunggu penceramah taraweh yang datang telat bukan karna habis kuasai bahan ceramah, tapi habis belajar bhs. Inggris, hahaha…Akhirnya setelah aq ganti celana ku pakai sarung dan mengambil peci di kos, aq langsung ke masjid, sholat isya dan mengisi ceramah taraweh.

Dalam ceramah itu, lucu juga, akhirnya aq berhasil menyampaikan wajibnya menutup aurat bagi kaum wanita, terutama remaja putri masa kini yang enggan menggunakan pakaian yang ‘aman’. Tidak lain dan tidak lebih pakaian mereka yang mengaku dirinya paling modis dan mengikuti perkembangan zaman sama saja dengan bungkus lontong yang dijual di pasar-pasar (akhirnya jamaah ada yang tersenyum geli, sambil membayangkan bungkus lontong itu…). Ya iyalah, la wong cuma bungkus doank, dan tidak sama sekali bisa di katakan menutup aurat. Puasa-puasa juga ga ada sadarnya, malah kaum pria yang ikut-ikutan kena dosa karna dimana-mana mesti ada pemandangan ‘bungkus lontong itu’.

Sementara itu, yang berjilbab besar dab tertutup rapat dikatakan sebagai ‘kemah berajalan’. Lho kok bisa? mungkin jilbabnya oleh sebagian wanita modis itu dibayangkan seperti kemah (saking lebar dan besarnya-red). Wah-wah keterlaluan. Masih lagi, kalo yang jilbab besar dirasa panas/gerah (sumuk-jawa) kalo di pake, jadi pada pilih yang minimalis gitu. Akhirnya, dalam ceramah itu aq sampaikan dua pilihan, manakah yng lebih baik sumuk di dunia karna mengenakan jilbab besar dan aurat tertutup sempurna, atau nanti merasakan sumuk-nya api neraka yang menggelegar? Waduh, sebuah perumpamaan yang sangat jauh.

Setelah beberapa kali mengulang hal tersebut, aq akhiri ceramah itu. Jamaah juga sudah mulai resah dan gelisah karna sholat taraweh malam ini nampaknya akan selesai lebih lama..


6 Responses to “[pakaian wanita = bungkus lontong]”


  1. August 23, 2014 at 4:38 am

    betul sekali aq pengen make jilbab


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Ami and the Night

A suspension of my life story and information. Shake it before use.

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Andik Taufiq

knick knacks of my daily life

Ransel Ijo

iTravel, iLearn, and iLive

ourlivetogether

You and Me, living our life together

Blog English Club

Connect, Learn and Have Fun!

%d bloggers like this: