04
Nov
08

kekhawatiran itu menjadi-jadi saat sakit…

Radang tenggorokan kronia yg baru saja ku lalui sempat mengundang kekhawatiran ortuku di nun jauh disana, hingga salah satu darinya datang menjengukku ke jogja. Abiku datang ke jogja di hari ketiga (kalo tidak salah) aq sakit. Saat itu aq dirawat di rumah tanteku di kota, kebetulan dia seorang dokter.

Saat abi datang, kondisiku sudah mulai membaik, darah yg keluar dari tenggorokanku itu sudah mulai berkurang, jadi aq di beri ijin oleh tante untuk ikut menjemput abi ke airport ditemani supir pribadinya dan anak kos depan rumah tante yg juga teman SMA ku dulu.

Pikirku, tidak sampai harus sejauh ini perjalanan yg ditempuh seorang Bapak yg ingin menjenguk anaknya hanya karna sakit radang tenggorokan kronis. Abi hanya datang sendirian, itu yg membuat ku kasihan selama diperjalanan, dan ummi tinggal di rumah sama nenek.

Pikirku lagi, kucoba kuatkan hati untuk memaknai ini sebagai kepastian bahwa inilah kasih sayang orang tua kepada anaknya. Apapun yg menimpa kita, selama itu dapat menimbulkan kekhawatiran orang lain, sudah barang tentu kedua ortu kita pasti akan cemas dan berusaha untuk melindungi kita walau harus melalui cara yg berat.

Abi bertanya kepadaku tentang keadaanku. Berusaha mencari sesuatu yg bisa ia berikan. Saat batuk itu sesekali datang menyambar yg sakitnya bukan kepalang, abi berusaha memberikan bantuan walau hanya dengan menyarankan minum air putih yg banyak, atau menawarkan untuk mengoleskan balsem panas di tenggorokan, dada dan punggungku. Sesekali aq terima tawaran itu.

Di masa penyembuhan, sebelum aq pulang kembali kekosku yg jauh dari kota, aq berusaha memberikan pelayanan terbaikku pada abi selam di rumah tante. Cuaca akhir-akhir ini tidak begitu bagus. Abi sering merasa kedinginan dengan cuaca di Jogja. Saat mandi, kucoba tawarkan mandi dengan air hangat. Hanya itu yg ku bisa, selain menyediakan minuman hangat buat abi setiap pagi.

Hanya dua hari di rumah tante setelah abi datang, aq minta ijin pulang ke kos karna aq merasa sudah agak baikan dan juga surat keterangan sakitku di kampus sudah akan habis masanya. Jadi, sore itu setelah mngambil hasil rontgen, aq diantar pulang sama tente dan nenek ku. Nenek dari jalur abi tinggal bersama tente di Jogja.

Setelah di kos, mulailah aktivitas ku kembali seperti semula, walau masih suka batuk-batuk ringan di malam dan subuh hari. Abi juga menginap beberapa hari di kos sebelum ia pulang ke rumah hari senin kemarin.

Satu yg tidak boleh kulupakan di tengah kesibukanku. Saat ini ada bersamaku abi yg datang beberapa hari untuk menjengukku sakit. Mulailah kekhawatiran itu muncul. Aq khawatir waktu aq bersama abi di jogja yg Cuma beberapa hari tidak ku gunakanan dengan baik untuk memberikan sebuah pengabdian. Aq khawatir, seandainya abi sakit di rumah seperti aq, mampukah aq harus meninggalkan semua aktivitas ku di jogja untuk menjenguk abi dan berusaha merawatnya, serta timbul rasa cemas yg sangat seperti yg abi lakukan kepadaku? Aq bisa menyiapkan makan abi setiap harinya selama di kosku, menyedikan air minum hangat di pagi hari dan ketika mau mandi ku siapkan air hangat. Tapi apakah itu sudah cukup membalas jasanya selama ini? Tentu belum apa-apa.

Sosok Bapak adalah orang yg mencari nafkah keluarga. Berusaha susah payah untuk menghidupi keluarga agar sejahtera. Tidak usah diuraikan usaha apa saja yg dilakukan seorang Bapak untuk menafkahi keluraga, itu terlalu rumit tak terhitungkan.

Lalu apakah kebaikan anak yg bisa membalas semua itu? Wajib kita khawatir sebagai rasa kewajiban taat kepada ortu ketika kita belum memberikan apa-apa untuk membalas jasa-jasa mereka. Bapak masih terhitung yg keempat untuk diutamakan pengabdian kepadanya. Masih ada Ibu sebagai orang yg paing utama untuk di taati setelah Allah dan Rasul-Nya.

Dalam shahih Al-Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata,“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak saya perlakukan dengan baik? Rasulullah menjawab,”Ibumu. Laki-laki itu bertanya lagi,”Kemudian siapa? Rasulullah menjawab,”Ibumu. Laki-laki itu bertanya lagi,”Kemudian siapa? Rasulullah menjawab,”Ibumu. Laki-laki itu bertaya lagi, kemudian siapa? Rasulullah menjawab,”Bapakmu”.

Kurang dari seminggu abi di Jogja, apa yg sudah ku berikan pada abi dalam waktu sesempit itu? Sedangkan bakti itu jika dilakukan setiap saat sekalipun belum tentu mampu membalas semua jasa keduanya. Waktu ini rasanya sempit sekali. Setidaknya aq harus selesaikan studiku di Jogja lebih kurang satu tahun lagi, baru mungkin aq bisa pulang dan memikirkan bakti itu.

Benar-benar sakit ini mengingatkakanku akan bakti ku pada ortu yg belum apa-apa, sedangkan waktu terus berjalan yang memberi arti masa hidup di dunia ini semakin berkurang. Doa itu yg bisa ku lakukan, semoga Allah menjaga kedua ortuku, dan memberikan kesempatan umur buatku berbakti kepada keduanya. Jauh kupikirkan usia diriku yg ku khawatirkan tidak banyak kupersembahkan untuk baktiku kepada keduanya, bukan usia keduanya yg sudah lanjut. Karna kematian tidak mengenal usia..

Saudara-saudariku, ini sebuah peringatan bagi kita semua anak-anak dari orang tua tangguh berjasa tak terhitungkan. Pikirkan, mampukah kita menjadi seperti mereka saat kita berkeluarga nanti? Mendidik anak-anak dan menafkahi keluarga? Khawatir, seandainya kita menjadi anak yg tidak berbakti pada ortu, nantinya Allah akan membalasnya dengan menjadikan anak-anak kita juga tidak berbakti pada kita. Kita berlindung kepada Allah dari balasan itu. Jadilah kita anak yg sholeh lagi berbakti, karna kesalehan seorang anak dapat memuliakan orang tuanya. Anas berkata,”Abu Bakar dan ayahnya (Qohafah) datang kepada Rasulullah shollalahu ‘alaihi wasallam pada saat Fathu Makkah dan menyuruhnya duduk di dekat Rasulullah. Lalu Beliau berkata kepada Abu Bakar,“Seandainya orang tua ini berada di rumahnya, aku akan mendatanginya sebagai penghormatan kepada Abu Bakar”.

Selagi ada waktu, ayo kita manfaatkan untuk bakti kepada kedua orang tua kita, setidaknya kita menjadi anak yg sholeh, sehingga kemuliaan ada pada kedua orang tua kita..

Wallahu a’lam..


0 Responses to “kekhawatiran itu menjadi-jadi saat sakit…”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Ami and the Night

A suspension of my life story and information. Shake it before use.

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Andik Taufiq

knick knacks of my daily life

Ransel Ijo

iTravel, iLearn, and iLive

ourlivetogether

You and Me, living our life together

Blog English Club

Connect, Learn and Have Fun!

%d bloggers like this: