17
May
09

sedih senja kala itu…

masjid senjaWaktu itu saya baru saja pulang mengajar privat fisika sahabat kecil saya yg juga belajar ngaji sama saya. Sepulang dari mengajar, saya memang ada rencana pergi silaturrohim ke rumah bu Lurah tempat saya KKN setahun yg lalu, lantaran ada acara di sana. Karna kesepakatan dengan teman yang lain kalo ntar berangkatnya habis magrib, terus saya berniat sholat magrib dulu di masjid dekat tempat tinggal teman saya. Kebetulan, pas saya sampai depan tempat tinggalnya, adzan magrib sedang dikumandangkan. Alhamdulillah…langsung saja saya menuju masjid itu dan berwudhu. Beberapa saat sebelum iqomat dikumandangkan, sembari menunggu jemaah lainnya, saya perhatikan jamaah yg berdatangan. Nampaknya akan ramai, soalnya masjid itu berada di tengah kampung dan dikelilingi rumah warga.

Sembari duduk tertunduk dan mengayunkan bibir berdzikir ringan, sesekali saya mengangkat kepala saya kembali memperhatikan para jamaah yang berdatangan. Tak lama kemudian, hati saya berkata, nampaknya ada yg ganjil dari suasana jamaah di masjid ini. Tidak langsung saya memahami keganjilan itu..namun setelah agak lama saya perhatikan lagi, ternyata jamaah yg berdatangan dari tadi hanya terdiri dari orang-orang tua yang berjalan sangat lambat karna tubuh tuanya sudah tidak lagi mengijinkannya untuk bergerak cepat dan gesit layaknya anak muda. Hati ini berlanjut bertanya, masjid di tengah kampung ini kenapa hanya dipenuhi oleh orang-orang tua? Kemana anak kecil dan pemudanya? Itu keganjilannya.. pemuda yang tidak ikut dalam meramaikan masjid, dimana mereka? Apa gerangan kesibukan yang teramat itu, sehingga membuat mereka menganggap dirinya tidak sempat melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan panggilan Allah.. Sedih, generasi ini, di zaman ini, begitu sibuknya dengan urusan dunia, sehingga urusan agama tertimbun dengan sangat dalam oleh kemegahan isi dunia. Padahal, sholatnya laki-laki itu adalah di masjid, apapun alasannya, kecuali ada udzur, atau sedang dalam perjalanan. Nabi kita yang mulia shollallahu a’laihi wasallam bersabda yang artinya :

Seandainya manusia mengetahui keutamaan panggilan adzan dan shaf awal kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi, pastilah mereka berundi dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-…” [Hadits Riwayat Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437]

Maukah kalian aku tunjukkan apa-apa yang menyebabkan Allah menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian.” Mereka berkata: “Ya, wahai Rasul”, kemudian Rasul menyebutkan salah satunya adalah memperbanyak langkah menuju masjid. [Hadits Riwayat Muslim no. 251]

Demikian Nabi menjelaskan. Dan juga tambahan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi memerintahkan seorang buta yang tak memiliki sanak saudara yg akan menuntunkannya menuju masjid untuk tetap mendirikan sholat di masjid lantaran suara adzan yang tetap di dengarnya. Lalu bagaimana dengan kita, muslimin yg Allah berikan kesempurnaan anggota tubuh yg lengkap, yg menjadikan kita tidak terhalang sedikitpun untuk melangkah ke masjid. Tentunya kesempurnaan yg Allah berikan ini hendaknya menjadi ladang kita sebagai rasa syukur kita kepada-Nya yg telah menjadikan kita manusia berinisial muslim, sehingga kita diberi ijin untuk beribadah hanya kepada Allah.. Semoga kesedihan ini tidak berlajut…


20 Responses to “sedih senja kala itu…”


  1. May 17, 2009 at 7:12 am

    Ya memang d berbagai daerah di pelosok2 yang pernah aku singahi sepertinya pemuda kurang di berbagai masjid.

    Terima kasih nasehatnya. doakan Aku tetap ke Masjid Allah
    dan terus walau keadaan sempit maupun lapang

  2. 3 kumanz
    May 17, 2009 at 8:32 am

    terimakasih sudah diingatkan🙂

  3. May 17, 2009 at 3:41 pm

    okeh, gw harus rajin” sholat di masjid. walopun sehari minimal udah sekali ke masjid.

    pengen lebih. semoga bisa!

  4. May 18, 2009 at 3:23 am

    Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masijd itu mengadu kepada Rabbnya Yang Agung.😦

  5. May 18, 2009 at 3:23 am

    blue suka dengan postinganmu sahabat!
    penyejukan diantara peringatan atas lalainya sebuah perintaNya
    salam hangat selalu

  6. May 18, 2009 at 4:31 am

    Saya sangat tersentuh mas
    Thx yah..

    nice post

  7. May 18, 2009 at 5:58 am

    Kala suara adzan terdengar jelas di teling
    Malu jika kaki ini tak memburu

  8. 14 masnoer®
    May 19, 2009 at 1:25 am

    wah mas istiqomah harus senantiasa kita jaga, karena karena istiqomah itu kalau nggak didasari dengan iman itu sulit

  9. June 5, 2009 at 4:57 am

    “Tiga orang yang berdiam disuatu Desa, Hutan (dimana-mana) tidak mendirikan Shalat berjamaah, maka sungguh yang menguasai mereka adalah Syaitan, MAKA WAJIB ATASMU BERJAMA’AH, karena sesungguhnya Serigala hanya memakan kambing yang terpencil (sendirian)” – Riwayat ABU DAUD😀

  10. December 16, 2010 at 5:56 am

    sedih memang lihat fenomena skrg..justru di mall2 yg ramai…kalau dulu, setelah magrib itu, masjid-masjid ramai oleh anak-anak TPA mengaji, skrg sudah mulai sepi kegiatan itu…hmmm miris


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Ami and the Night

A suspension of my life story and information. Shake it before use.

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Andik Taufiq

knick knacks of my daily life

Ransel Ijo

iTravel, iLearn, and iLive

ourlivetogether

You and Me, living our life together

Blog English Club

Connect, Learn and Have Fun!

%d bloggers like this: