30
Mar
14

menjaga lingkungan itu asik

Berbicara masalah lingkungan memang tidak ada kadaluarsanya. Bagaimana tidak, lingkungan itu kan sangat erat dan dekat hubungannya dengan kita. Orang akan banyak menilai tentang diri kita dilihat dari bagaimana keadaan lingkungan kita. Lingkungan kita bersih dan sehat, maka seperti itulah pencitraan diri kita, kita pun akan dinilai sebagai orang yang bersih dan sehat.

Nah kali ini saya akan berbagi pengalaman mengenai lingkungan dalam rangka mengikuti lomba blog yang diadakan oleh WWF Indonesia bekerjasama dengan BLOGdetik. Semoga ini merupakan bagian yang bisa jadi perhatian semua orang, khususnya di Indonesia yang di beberapa daerah kesadaran akan lingkungannya masih kurang, terutama di kota-kota besar.

Memelihara lingkungan itu gampang-gampang susah, bisa juga tergantung mood. Parlu adanya konsistensi yang tinggi untuk terus memupuk kesadaran memelihara lingkungan. Dimulai dari diri sendiri, itu penting dan justru berat, apalagi sebelumnya kita termasuk orang yang malas menjaga lingkungan. Banyak hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan, sehingga kita tidak perlu berpikir terlalu jauh melakukan usaha yang berat. Mulai dari lingkungan rumah kita, kebiasaan-kebiasaan harian, semua bisa ditujukan untuk pemeliharaan lingkungan. Saya sendiri termasuk orang yang moody, kadang mau kadang enggak. Tapi ya itu, kesadaran diri yang akan selalu membuat kita konsisten.

Setiap orang punya cara tersendiri untuk menjaga lingkungan. Misalnya saya, kebetulan kesibukan saya sebagai Guru Science sedikit banyak mengarah pada kegiatan pemeliharaan lingkungan. Banyak ilmu yang saya dapat yang membuat saya terus semangat menjaga lingkungan. Akhirnya, ujung dari kesadaran diri itu adalah mengganggap bahwa menjaga lingkungan itu penting, mau tidak mau harus dijalankan. Cara yang dilakukan pun tidak berat, bahkan mudah dan asik. Salah satu contoh sederhana, penggunaan kantong plastik. Plastik termasuk bahan berbahaya jika digunakan pada suhu tinggi yang melebihi batas penggunaannya (http://mustantiirena.blogspot.com/). Misalnya plastik yang digunakan untuk membungkus makanan panas seperti bakso dan soto. Khawatirnya, pada suhu tinggi makanan tersebut dapat memecah struktur kimia plastik sehingga memungkinkan zat kimia plastik bercampur pada makanan. Zat kimia plastik bukan zat kimia ramah lingkungan apalagi untuk tubuh. Bisa dibayangkan zat kimia plastik tersebut masuk dan tertimbun dalam tubuh dalam jumlah yang terus meningkat.

Mengakali kebiasaan ini, saya sering membawa wadah sendiri jika ingin membeli bakso atau soto, misalnya seperti rantang yang terbuat dari alumunium atau bahan logam lainnya, atau saya memilih untuk makan ditempat dari pada dibawa pulang. Dengan cara ini juga kita dapat mengurangi volume penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-sehari. Namun, plastik sendiri aman jika digunakan untuk wadah barang yang tidak memiliki suhu tinggi, seperti belanjaan harian: sampo, sabun, pasta gigi, dan lain-lain.

Plastik bekas belanjaan seringkali menumpuk di rumah kita. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan adalah membuangnya sembarangan yang pastinya ini akan merusak lingkungan, karna plastik merupakan salah satu bahan yang tidak mudah terdegradasi atau butuh puluhan tahun untuk memecah struktur kimia plastik secara natural. Tanah sebagai media utama tempat tumbuhnya tanaman akan terkontaminasi oleh plastik dan kandungan unsur haranya akan berkurang, sehingga tentu saja tumbuhan akan terancam kesuburannya.

Nah, saya biasanya mengumpulkan kantong plastik itu dalam satu wadah. Kantong-kantong plastik itu akan saya gunakan lagi untuk keperluan lain sehingga saya tidak perlu kantong plastik baru. Misalnya, untuk wadah pakaian kotor untuk dibawa ke londri. Biasanya saya suka pesan pada petugas londrinya untuk menyimpan plastik bawaan saya sebagai wadah ketika nanti pakaiannya sudah selesai di londri. Ini sederhana, tapi banyak orang yang tidak sadar banyaknya plastik yang dipakai dari aktivitas me-londri pakaian saja.

Selain itu, kantong plastik simpanan saya, biasa saya pakai juga untuk wadah tong sampah dalam rumah untuk memudahkan nanti ketika dibuang ke pembuangan yang lebih besar. Hal ini juga memudahkan kita untuk tetap menjaga tong sampah (dalam rumah) kita tetap bersih dan tidak tercemar sampah basah/cair kalau ternyata kita suka membuang sampah basah dan kering di tempat sampah yang sama. Tapi memang baiknya kita menyediakan tong sampah lebih dari satu untuk memisahkan sampah basah dan kering, terutama di dalam dapur. Jadi usahakan adanya aktivitas-aktivitas sederhana yang dapat mengurangi jumlah plastik di rumah kita agar tidak menumpuk dan tidak juga dibuang sembarangan. Jika ada input plastik di lingkungan kita, maka usahakan juga adanya output.

Aktivitas seperti ini tidak hanya di rumah, di kantor pun kita bisa melakukan hal yang sama. Namun dikantor mungkin akan beda fokusnya. Aktivitas nge-print, foto-copy, kertas coret-coret, soal-soal ujian (sekolah), dokumen-dokumen hard-copy lama, semuanya akan menumpuk dan kotor jika dibiarkan. Saya sendiri biasa menyimpan kertas-kertas bekas tersebut dalam satu wadah yang saya beri label “used paper” (artinya: kertas yang sudah digunakan). Tujuannya adalah pemanfaatan lebih lanjut. Kertas bekas aktivitas kantor tersebut biasanya hanya terpakai satu sisi saja, sedangkan sisi yang lainnya masih kosong. Sisi kertas yang masih kosong tersebut bisa kita gunakan lagi, misalnya untuk nge-print dokumen-dokumen yang tidak formal atau untuk kertas coretan saat ada rapat, sehingga kita tidak perlu menggunakan kertas baru. Kita juga perlu mengingatkan peserta rapat lainnya, kalo perlu kita bagikan mereka satu persatu beberapa lembar kertas bekas sebagai kertas coretan mereka. Sehingga semua peserta rapat tidak perlu menggunakan kertas baru untuk sekedar coretan. Cara ini juga secara tidak langsung dapat menghemat uang untuk membeli block-note, lumayan.

Dulu, waktu saya masih tinggal di deket kampus, Ibu kos saya pernah meminta kertas bekas saya. Saya tanya untuk apa, ternyata beliau menjelaskan untuk digunakan sebagai wadah lapisan daun pisang untuk membungkus tempe buatannya. Kebetulan beliau menjalankan home-industry pembuatan tempe yang seharga Rp.1.000,00/4 biji (harga saat itu). Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan barang-barang bekas disekitar kita dalam rangka menjaga lingkungan.

Berbicara masalah sampah sendiri, disekolah tempat saya bekerja, saya dan salah seorang Guru lainnya berencana membuat sebuah sistem pengelolaan sampah internal sekolah, terutama sampah buangan makan siang murid dan Guru. Kebetulan di sekolah saya menerapkan sistem fullday-school, jadi siswa pulangnya sore jam 16.30, sehingga sekolah menyediakan makan siang di sekolah. Nah, namanya anak sekolahan kadang mereka suka bosan dengan menu sekolah jadi suka banyak makanan yang terbuang. Dari sini kami memikirkan bagaimana agar sampah makan siang tersebut tidak terbuang begitu saja. Ini baru rencana, tapi akan segera terealisasi. Rencananya sampah makan siang tersebut akan dikumpulkan dan diproses menjadi pupuk dengan mencampurkannya dengan beberapa bahan tambahan lainnya seperti bakteri pengurai dan sampah dedaunan. Setidaknya, makanan sisa tersebut tidak terbuang begitu saja, tapi dapat dialihkan untuk kegunaan lain.

Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan. Tapi apa teman blogger sekalian tidak merasa kalau dua minggu terakhir ini cuaca sangat panas disiang hari. Sepertinya musim akan beralih dari musim hujan ke musim kemarau. Inilah yang disebut sebagai musim pancaroba. Kalo dibandingkan dengan pancaroba tahun lalu, sepertinya tidak sepanas tahun ini. Mungkin ini bagian dari pemanasan global yang sudah sejak lama menjadi isu dunia. Bekendara dengan motor disiang hari serasa terpanggang. Ditambah lagi dengan hempasan asap kendaraan umum yang sangat tidak ramah lingkungan. Panas, polusi, kotor semua campur menjadi satu. Efek ini dipengaruhi juga dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas setiap harinya, sehingga meningkatkan volume polusi udara hasil buangan kendaraan bermotor. Di kota tempat saya tinggal, Jogja, jumlah kendaraan baik motor maupun mobil bernomor polisi putih terbilang cukup banyak. Itu artinya volume kendaraan di kota Jogja meningkat. Orang cenderung untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi. Kalau dipikir memang lebih efektif dan efisien menggunakan kendaraan pribadi. Tapi kita sebagai warga juga harus bisa berpikir bijak. Jalanan itu adalah milik bersama dan mempunyai batas tampungan. Kalau kita terus memikirkan kepentingan pribadi, lama-lama Jogja akan tidak ada bedanya dengan Jakarta.

Dalam hal ini, kembali kesadaran diri dituntut untuk bangkit. Penggunaan kendaraan pribadi yang terlalu sering akan mengakibatkan beberapa dampak buruk, diantaranya konsumsi bahan bakar fosil (bensin dan solar) meningkat sedangkan ketersediaan bahan bakar fosil sudah semakin menipis, volume polusi udara juga meningkat. Oleh karena itu perlu kebiasaan yang diubah dalam penggunaan kendaraan pribadi. Bagi yang punya mobil mungkin agak berat untuk beralih ke kendaraan umum dalam waktu singkat melihat kondisi sistem transportasi umum, seperti di Jogja tidak berjalan dengan baik. Seharusnya, dengan sistem transportasi yang baik, masyarakat akan memilih menggunakan transportasi umum untuk bepergian di dalam kota. Ini menjadi PR kita bersama, masyarakat dan Pemerintah untuk bersama menciptakan sistem transportasi umum yang nyaman dan terjangkau sehingga banyak diminati. Semoga saja di PEMILU bulan April mendatang akan terpilih pemimpin yang salah satunya dapat fokus memikirkan sistem transportasi umum yang nyaman dan terjangkau.

Saya pribadi, mungkin terlalu mudah mengatakan demikian, soalnya saya sendiri tidak punya mobil, jadi kemana-mana naik motor. Tapi bukan berarti pengguna motor tidak bisa berpartisipasi dalam pemeliharaan lingkungan melalui penghematan penggunaan bahan bakar fosil. Misalnya, kalau ukuran mahasiswa, aktivitasnya bisa dikatakan hanya seputar kuliah, makan dan kerjain tugas. Mahasiswa yang tinggal tidak terlalu jauh dari kampus, bisa ke kampus dengan jalan kaki, atau pergi bareng teman. Juga jika ke warung untuk makan bisa jalan kaki saja. Biasanya warung-warung banyak sekitar kosan, jadi kan bisa jalan kaki saja, itung-itung hemat duit buat beli bensin. Sederhana, tapi kalau sudah jadi kebiasaan akan terasa kok efeknya.

Jadi sobat blogger sekalian, gampang-gampang susah menjaga lingkungan itu. Tapi mending pikir gampangnya saja dari pada susahnya. Kalo pikir susahnya nanti kita gak ada usaha sama sekali. Usaha menjaga lingkungan itu banyak yang sederhana, murah dan efisien, terlebih lagi efeknya benar-benar terasa. Lingkungan bersih dan terawat adalah cerminan diri. Jangan ragu untuk melakukan satu langkah baik menjaga lingkungan. Mulai dari diri kita, keluarga, teman kampus/kantor, satu kampung sampai pada komunitas yang lebih luas lagi.

Demikian postingan tentang ingat lingkungan ini, semoga bisa jadi perhatian kita semua untuk mewujudkan aksi yang nyata menjaga lingkungan.

 


14 Responses to “menjaga lingkungan itu asik”


  1. March 31, 2014 at 5:40 am

    sebenarnya menjaga lingkungan itu gampang, tapi terkadang ada saja orang yang tidak peduli. banyak saya jumpai anak muda yang sedang nongkrong tidak pernah membuang sampahnya di tempat sampah. Sampahnya dibiarkan berserakan.
    terkadang saya suka illfeel sendiri…

    kunjungan balik mas🙂

    • April 1, 2014 at 6:15 am

      Iya betul. Kalo sempat kita bisa memberi kode atau teguran ke orang-orang yang seperti itu. Kalo ditempat saya, kebetulan saya tinggal di asrama Bahasa Inggris, kami punya regulasi khusus untuk anggota asrama yang ketahuan membuang putung rokok sembarangan. Kalo terkoordinasi dalam suatu komunitas memang terlihat mudah. Tapi kendalanya, tidak semua orang tergabung dalam komunitas tertentu, atau bahkan ada komunitas yg tidak memikirkan tentang menjaga lingkungan.
      Terimakasih atas kunjungan baliknya😀

  2. March 31, 2014 at 11:24 pm

    Saya juga ada pengalaman nih dlm upaya menjaga lingkungan, hehe…. Jadi saya sering banget bawa tas kresek sendiri kalau belanja-belanja. Dulu pernah beli nasi bungkus di sebuah warung rames, eh diketawain karena bawa plastik kresek sendiri, hahaha….. Mungkin si ibu penjual nasi rames itu baru pertama kali ini ketemu orang yg bawa kresek sendiri. Padahal kan sekarang sudah mulai banyak, hehe….

  3. April 1, 2014 at 2:38 am

    Saya juga menerapkan yang plastik itu, jadi tiap abis belanja dpt kantong plastik sya simpan, nnti digunakan utk di tempat sampah, atau kdng buat wadah kalo ada perlu gitu😀

  4. April 1, 2014 at 8:40 am

    Assalaamu’alaikum wr.wb,Fachri…

    Saya senang membaca informasi tentang menjaga lingkungan dari tulisan Fachri di atas. Banyak perkara yang bisa kita lakukan untuk merealisasi kenyamanan lingkungan jika mahu bersatu dalam pelaksanaannya. Hanya mereka yang bijak tahu bagaimana mengurus bumi Allah SWT. Mudahan pihak pemerintah serius dalam mengusahakan keamanan nyawa dengan menyediakan lingkugan alam sekitar yang sihat sejahtera buat rakyatnya.

    Semoga sukses dalam lombanya. Terima kasih karena follow blog saya. Sangat menghargainya.
    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak.😀

  5. April 10, 2014 at 12:25 am

    Saya senantiasa salut pada generasi muda yang peduli terhadap lingkungan. Ini adalah tindakan baik yang semoga senantiasa ditularkan untuk kebaikan bumi ini yang kan kita wariskan.🙂

  6. April 28, 2014 at 8:06 am

    setuju bnget ma artikelya ayo kita kmpul adain pelayanan untuk lngungan

  7. June 1, 2014 at 6:35 am

    saya punya tas belanja khusus, tas kain belacu; dan saya selalu merasa keren kalau belanja memakai tas belacu ini. apalagi selalu ada di dalam tas ransel saya, jadi kalau belanja, saya pasti menolak kantong plastik. saya akan menerima kantong plastik jika saya sudah punya rencana atau memang butuh kantong plastik. daripada beli, mending dapat gratisan hehehe…

    menularkan atau mengajak orang lain untuk menjaga lingkungan cukup susah. pengalaman saya dengan murid2 saya dulu, di awal saya buat kesepakatan kelas bahwa di awal dan akhir pelajaran saya, kelas harus bersih. kalau kotor, maka seluruh kelas tidak akan mendapat nilai maksimal. sebenarnya cara ini kurang tepat, tapi di depan anak2 yg masih menganggap nilai adalah hal yg penting, kita bisa kasi iming2 ini. sehingga kebersihan adalah hasil aksi kolektif. murid jadi harus saling mengingatkan.

    paling utama sebenarnya adalah melakukan refleksi diri, bertanya pada diri sendiri, apa manfaat dari kebersihan untuk diri kita. jika kita merasa mendapat manfaat positif, pasti kita akan selalu menjaganya.

  8. October 4, 2014 at 4:41 am

    cintai lingkungan agar hidup sehat tanpa penyakit😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Ami and the Night

A suspension of my life story and information. Shake it before use.

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Andik Taufiq

knick knacks of my daily life

Ransel Ijo

iTravel, iLearn, and iLive

ourlivetogether

You and Me, living our life together

Blog English Club

Connect, Learn and Have Fun!

%d bloggers like this: